Monday, December 26, 2011

Tangisan untukku

Aku tahu diriku sangat berharga untukmu
Dan aku pun tahu bahwa dirimu sangat mencintai aku
Tetapi mengapa dirimu selalu menyakitiku
Membuat luka-luka baru di hatiku

Aku menyayangimu lebih dari kau menyayangiku
Dengan segala apapun yang ku punya dari kesederhanaan dan ketulusan cintaku
Aku tetap mencintaimu

Dan kini ku tergeletak lemah tak berdaya
Aku hanya ingin diam merasakan sakit yang kurasa
Tetapi kau selalu ingin membuatku mengatakan kepadamu
Tentang sakitku
Maaf jika ku terlambat memberi tahumu

Kau tahu
Kau tahu kasih
Aku yang selalu ingin pergi itu karena aku tak kuasa
Tak kuasa melihat yang lain mengusik cinta kita

Tapi aku terlalu menyayangimu
Hingga luka-luka yang semakin perih menjadi tak lagi dapat ku rasa
Berulang kali kau buatku menangis
Berulang kali sahabatku melarangku mendekatimu lagi
Tapi aku terlalu menyayangimu
Dan aku tetap bertahan disini
Yang tahu tentang dirimu hanyalah aku

Masihkah kau mempunyai hati untukku
Terbutakankah dirimu dengan cinta pelampiasanmu
Aku tahu dulu kau terluka karenaku
Tapi kini ku datang ingin menebus kesalahanku
Dan kau ijinkan aku

Dan kini ku semakin lemah tak berdaya
Dan akhirnya ku beri tahu dirimu tentang kondisiku
Kau pun menangis
Kau meminta maaf kepadaku
Kau peluk erat tubuhku
Kau belai lembut kepalaku
Lalu kau kecup keningku

Kau pun menangis
Air matamu mengalir di sela-sela hidung mancungmu
Mengalir ke pipimu
Ku usap air matamu
Dan aku pun menangis

Kau berkata
Aku hanya ingin kamu sembuh sayang
Melihat tawa lepasmu lagi
Aku akan kembali kepadamu suatu saat nanti
Jangan kau tinggalkan aku pergi saaat aku kembali

Teringat akan janjimu kepadaku
Ku ikhlaskan dirimu yang membagi cinta untukku dengan yang lainnya
Dan disini ku semakin rapuh
Terima kasih cintaku
Terima kasih buat semuanya

Kisahku, teruntuk dia yang ku sayang ♥

Sidoarjo, 25122011

Sunguh sulit melakukannya, sungguh teramat sulit. Mencari penggantinya, jujur aku tak bisa. Aku tak bisa move on, tak bisa. Tiap kali ku dekat dengan lelaki yg lain selalu saja aku tak kuasa untuk melupakannya, dia yg ku sayang. Sempat terfikir olehku untuk berpacaran dengan orang lain, dan itu terjadi, tapi hanya berjalan 1 malam saja. Aku teringat olehnya, tak kuasa membayangkan dia yang pasti akan kehilangan aku. Aku tau dia sangat menyayangiku, tapi cara dia salah. Tak tahu lagi harus berbuat apa.
Kemaren, dia menangis memelukku, saat ku kasih tau apa yang kurasa, kesakitan yang ku alami, dan penyakit yang menyerangku. Aku tak sanggup memikul beban ini sendiri, aku tahu yang ku butuhkan untuk ikut membantu memikul beban ini adalah dia, tak tahu kenapa, aku tak pernah bisa lepas dari dia. Tak bisa. Mencoba menggantinya dengan orang lain pun aku tak bisa. Semua tentang dia selalu membekas di hatiku. Aku capek, letih, keinginanku melepaskan dia karena aku tak kuat, aku tak sanggup trus-trusan di duain seperti ini, hatinya selalu terbagi dengan yang lain, padahal aku memberinya hatiku seutuhnya.
Dan di luar hujan turun, aku sudah tak kuat, aku berlari menuju rumahnya, dan sesampainya disana hanya tatapan dingin darinya. Aku terdiam, dia berubah. Aku terhenti dan dia menyuruhku untuk ke atas, dia masih terdiam, dia menyuruhku berbicara, dan aku pun berbicara, air mataku pun jatuh menetes, tak kuasa dengan segala yg aku alami. Sampe akhirnya aku tak kuat menopang tubuhku.
Dan dia pun menangis. Untuk yang ketiga kalinya aku melihat dia menangis karenaku, tak mampu melihatku dengan segala kekurangan dan kelemahanku. “Aku gak ngerti harus gimana, aku cuma pengen liat kamu sembuh, sayang. Sembuh ya demi orang tuamu, demi semua orang yg menyayangimu. Aku gak tahu harus gimana lagi, mendengar kamu bicara tentang penyakitmu meski kamu tak memberi tahuku kamu sakit apa, sekarang saja aku menangis, apa lagi nanti kalo aku kehilangan kamu untuk selamanya.” Terisak dia berkata itu, air matanya mengalir di pipi dan sela-sela hidung mancungnya. Aku pun ikut menangis, tak tega melihatnya menangis. “Kalo kamu gak ada nanti, siapa yang bakal nempatin rumah kita? Aku kerja, aku bikin rumah itu cuma buat kamu. Jangan ngomong gitu lagi yaa, aku takut. Aku cuma pengen kamu sembuh dan liat tawa lepasmu. Yang gemuk ya sayang, kamu kurus banget, gak keliatan cantik.” Dan dia pun masih menangis, kuusap air matanya, lalu dia memegang tanganku dan menyuruhku berjanji, “Kamu harus sembuh, suatu saat nanti aku pasti akan kembali ke kamu, kamu jangan nolak aku disaat aku kembali ke kamu. Jangan lamaran dulu sama yg lain ya. Biar ku seleseikan dulu urusanku sama dia.” Dan ku jawab dengan anggukan kepalaku dan tetesan air mataku. Mencoba mengikhlaskan dan bersabar untuk dia yang membagi cinta dan hatinya untukku dengan yang lain. Dia memelukku sekali lagi, mencium keningku, kepalaku yang berkerudung. Aku tak berani membuka kerudungku, rambutku mulai rontok, aku hanya bilang ke dia saat dia menanyakan kenapa rambutku rontok, “aku sering demam, gak cocok pake shamponya.” Sambil tersenyum, menyadari aku telah membohonginya, maafin aku. Aku hanya tak ingin kamu tahu apa yang sedang menimpaku. Dia hanya berkata, “Besok kalo udah nikah, kalo masak pake kerudung aja ya, biar masakannya gak kecampur sama rambut kamu.” Aku hanya terdiam, memikirkan, andai aku masih bisa menemaninya di sisa umurku, andai aku masih bisa menjadi istrinya, andai saat dia kembali kepadaku aku masih hidup. Tak kuasa membayangkan kalau dia kembali dan aku telah pergi untuk selamanya. Begitu berat yang ku rasa.
Dan sekarang aku hanya bisa berdoa dan berharap aku segera sembuh dan mampu memenuhi permintaannya. Aku juga ingin hidup bersamanya, tapi apa mungkin dengan kondisiku yang seperti ini.
Dan dia menangis lagi. Aku membuka kerudungku, begitu banyak rambut yang berjatuhan, ku pakai kacamataku. Aku tak kuat duduk lama, aku meminta izin kepadanya untuk bersandar, tetapi dia menyuruhku untuk tiduran. Aku turuti, aku tiduran dan dia duduk disampingku. Dia pegang kepalaku, menciumnya lagi, menangis. Dan tangisku makin menjadi. Tak kuasa dan tak tega melihatnya begitu.

“Sayang, maafin aku ya. Mungkin aku tak bisa memberimu apa-apa, aku hanya menjadi bebanmu saja, keinginanku untuk meninggalkanmu itu karena aku tak kuasa melihatmu bersama yang lain, jejaring sosialmu yang dipenuhin kata-kata mesra dari perempuan itu. Aku tahu dulu kesalahanku meninggalkanmu, maafkan aku. Aku tahu seminggu ini aku sangat menguras kesabaranmu, aku bener-bener gak tahu harus bagaimana. Aku menyayangimu, dan hanya aku yang tahu dirimu itu bagaimana dan seperti apa. Perempuan itupun tak tahu kamu yang sebenarnya. Kaupun pernah bilang memang hanya aku yang mengetahui dirimu luar dalam. Biarkanlah kata sayang dan kata cinta selalu terucap, karena kaulah kekasih hati selama ini yang aku cari. Aku mulai pusing sayang, ingin rasanya di ulang tahunku yg ke-18 nanti kau ada disini, menemaniku, semoga kau bisa. Tak ingin berpisah dan pergi meninggalkanmu. Tapi aku harus kuat, dan aku coba penuhin permintaanmu, aku akan berusaha sembuh, seandainya kamu kembali lagi ke aku untuk melamarku, disaat aku belum menjadi milik orang lain, aku akan penuhi lamaranmu. Sekian sayang curahan hatiku, semoga kamu mengerti dan mampu menemaniku.”

Menangis menulis ini, pastinya iya. Tak kuasa membayangkan kemungkinan terburuk menimpaku. Semoga kamu kuat kasihku, cintaku, maafkan aku kalo nantinya aku meninggalkanmu terlebih dahulu. Tak berarti aku tak melakukan janjiku dan permintaaanmu, hanya saja takdir berkata lain. Terimakasih sayang, maafkanlah aku.

Thursday, December 22, 2011

Bebas Dan Sendiri

Terbebas dari segala rasa yang ku punya kepada siapapun,
Kini ku sendiri, bebas tanpa ikatan apapun.

Mungkin ini keputusan yang tak pernah aku fikirkan, memilih untuk sendiri, yaps, gak pernah aku fikir aku memutuskan sendiri alias JOMBLO.
Hahahaha, aku tahu ada beberapa diantara temanku yang bertanya-tanya.
Tapi ini keputusanku, biar aku terbebas dari apapun.
Aku hanya ingin fokus sama kesehatanku dan kuliahku.
Biarkan dia yang telah membuat luka-luka di hatiku, biar dia kurelakan untuk yang lain, dan aku tak pernah kecewa akan keputusanku ini.
Aku pikir ini keputusan yang baik dan bijaksana. Alangkah baiknya diriku merelakan seseorang yang dulu ku sayang utuk orang lain.
Biarlah, biar mereka berdua bahagia, karena aku pun bisa mencari kebahagiaanku tanpa mereka berdua.

Aku kini memang lagi tak ingin bersama siapa-siapa, ingin menikmati kesendirianku lebih lama. Masih sakit yang ku rasa, biarlah, lama-lama juga akan sembuh.
Semoga dia yang "baru" mampu memberi aku canda dan tawa yang tulus dari hatinya.
Maafkan aku yang tak bisa memberimu cinta, aku takut menyakitimu. Biarkan uka-luka di hatiku sembuh terlebih dlu.

Dan kini ku bebas dan sendiri.

Tuesday, December 20, 2011

Move On

Yaps, gue harus move on!!!
Tak ada lagi kegalauan.
Tak ada lagi kebimbangan.
Tak ada lagi kekecewaan.

Sekarang yang gue rasa, hambar, netral dan bener-bener gak ngerasain sesuatu yang menunjukkan rasa-rasa sayang sama lawan jenis, tapi gak sesama jenis juga.
-____-
Terlalu sering dibikin sakit hati mungkin, sampai gue tak punya rasa ke siapapun, #ups, tapi tidak untuk seorang cowok terlarang itu, #eh.
Tertatih mengumpulkan remukan dan serpihan hati sendiri, dan akhirnya gue berhasil, kini hati gue utuh kembali karena usaha gue sendiri. Tanpa bantuan siapapun.
Dia yang dulu?? kemanakah dia? hahaha. Sepertinya dia sudah tak penting, harus dilupakan! Bisanya cuma bikin gue nangis, dan tidak pernah tegas!
Bikin gue enek ngeliatnya, dan makin ilfil karenanya. Terserah deh mau dia apaan, gak ada hubungannya lagi sama gue, percuma juga dipertahanin kalo dianya ajah masih gak bisa tegas!
Capek kali di duain! CAPEK!!!!
Harusnya dia sadar, ingin bersama gue selamanya, ya nggak usah nyakitin gue, pake sama cewek lain dulu buat sekedar seneng-seneng trus sama gue selamanya. Okeeh, gue tau endingnya sama gue, tapi sekarang?? Gue yang sakit, teramat sakit tau!!!!
Sudahlah, sekarang waktunya kamu pergi..
Berat? Memang berat, tapi tak seberat kemaren-kemaren. Gue juga gak tahu apa yang menyebabkan gue jadi mudah ngelepas dia, hahaha.
Biarlah dia mencari kebahagiaannya sendiri, dan aku tak pernah peduli akan hal itu.
Hahahahah, karena guenya juga cuapeeek, muales, ilfil pula, dan pindah ke lain hati juga, jadinya kamu si boy, silahkan pergi. Gue rela kok. :)

COWOK MASIH BANYAK!!! MOVE ON!!!!
Hahahhahahaha. :D

Monday, December 19, 2011

Rasa yang berbeda, tetapi salah.

Rasa ini beda dan salah,, iya salah. Karna dia telah menjadi milik orang. Dia? Bukan yang dulu, bukan yang kemaren-kemaren, ini baru, seseorang yg baru hadir di hidupku, baru aku kenal beberapa bulan yang lalu.
Dari awal aku kenal, aku tahu ada sesuatu yang berbeda, aku tahu itu, tapi aku berusaha mengesampingkan itu semua. Tetapi, lama-kelamaan aku tak bisa mengesampingkan hal itu, hal itu penting buat aku, perasaanku, rasa yang ku punya kepadanya. Dan aku memutuskan untuk menyayanginya. Ketika ini, aku tak tahu bahwa dia telah punya kekasih.
Berminggu-minggu mengenalnya, berbulan-bulan ku melihatnya, dan ketika dia berbicara sendiri di depanku, "iya, ini loh cewekku, eemmm," sambil tersenyum dia mengucap itu, seperti kebahagiaan menyelimutinya karna dia telah memiliki kekasihnya itu. Seperti terhempas ombak badai hatiku seketika retak, tak kuasa lagi mendengar cerita selanjutnya. Aku patah hati. Sungguh sakit rasanya, tapi aku berusaha kuat, berusaha tegar.
Mungkin dia bukan untukku, itu saja yang aku pikirkan sampai sekarang.

Dia banyak cerita entang kekasihnya itu ke aku, aku membaca semua SMS nya, sakit memang, tapi tak apalah, aku rasa dia nyaman bercerita kepadaku tentang hubungannya itu. Pasrah ketika kecemburuan merasuk ke dada, SABAR! hanya itu yang aku usahakan. Karna aku tahu aku salah mencintai orang.
Dari dia seneng-senengnya sama pacarnya, sampai ketidak harmonisan hubungannya pun dia ceritakan.
Sakit mendengarnya, tapi aku ingin tetap ada disampingnya, meski bukan kekasih, tapi aku masih bisa menjadi temannya.
Lama kurasakan hal ini, sampai akhirnya aku tak kuasa menyimpannya sendiri, sahabat-sahabatku aku ceritakan, dan aku mulai menunjukkan ketertarikan dan perasaanku ke dia di depan dia. Entah dia merasakanitu atau tidak, aku hanya berharap dia tidak tahu perasaan ini.
Ketika berjalan bersamanya, bercanda tawa dengannya aku tahu rasanya bahagia, bahagia sekali. Tapi ketika aku terbangun dan tersadar bahwa DIA MILIK ORANG LAIN aku hanya bisa miris, menahan perih dan sakit yang kurasa.
Dan kini aku tak tahu lagi harus bagaimana.
Menjaga perasaan ini sendiri, tanpa harus dia tahu.
Maafkan aku yang begini.
Aku tak bermaksud merusak hubunganmu.
Oleh karenanya, aku hanya diam memendam rasa ini sendiri, dan dirimu tak perlu tahu.